Featured

Sabtu, 16 Juni 2018

"Kapan"

Alhamdullilah,
Tahun ini saya terbebas dari pertanyaan "kapan" .
.
Berikut beberapa cara yang saya gunakan, supaya tidak memunculkan pertanyaan "kapan" tersebut. Kali bisa jadi inspirasi 😂
.

1. (*Sok) sibuklah

.
Sibuk makan, sibuk main sama ponakan, sibuk balesin ucapan "maaf lahir batin" di hape, sibuk motong buah, sibuk ngiris puding, .. kalau bisa sekalian sibuk nyapu dan cuci piring.
.

 

Insya Allah, ngga bakalan ngga ada kesempatan untuk ditanya.
.
.

_______________


2. Kurangi duduk berselebahan dengan sesepuh-sesepuh/orang-orang yang suka bertanya "kapan".

.

Perbanyak ngumpul sama saudara-saudara senasib sepenanggungan. 

.

Contoh, pas lagi ngumpul bareng,

.

yang belum lulus-lulus sidang tugas akhir, banyakin kumpulnya sama sodara yang masih kuliah.
Yang belum punya pasangan diusia matang, banyakin kumpul sama sodara-sodara yang jomblo.
Yang belum punya anak, banyak kumpulnya sama sodara yang belum nikah. 

Dst.
.

Atau paling aman, ikut maen sama ponakan aja. (*main ayunan, main sepeda, dll) 😂😂

.

_______________________

.
3. Membuat topik pembicaraan baru.
.

Jelaskan apa kegiatan kita sekarang, projek yang dikerjakan sekarang, dan ajak mereka berpartisipasi. 

.

Misalnya sekarang lagi mencoba bisnis di instagram, maka kenalkan kegiatan tersebut, sekalian promo "follow IG akuh kaka", dan kasih tau bahwa besok2 akan ada promo yang menarik (*ga ada orang yang ngga suka gratisan/promo)

.

Yang lagi merintis, bisnis les2an, misalnya, bisa woro-woro, kalau kita lagi buka kelas gratis untuk sodara (*inget, ga ada orang yang ngga suka gratisan/promo).

.

Yang lagi merintis bikin sekolah, misalnya, bisa langsung sekalian pengumuman kalau kita lagi buka open house dan open donasi, serta open rekrutmen, sehingga kalau ada yang tertarik, bisa langsung daftar. (*ini yang saya lakukan kemarin)

.

Yang ngga punya kegiatan apa2 untuk diceritakan , maka kini saatnya kalian memulai punya kegiatan yang ada manfaatnya untuk di share ya. Masih ada 11 bulan kedepan untuk persiapan. 

.

Karena hidup bukan melulu tentang diri sendiri. Maka perbanyaklah manfaat dan kegiatan yang positif. Lalu sebarkan , share dan ajak orang lain untuk berpartisipasi. 

_____________________

4. Bikin suasana jadi asyik. 

.


Sehingga orang ngga kepikiran buat nanya2 masalah "kapan".
.

Bisa dengan tebak2an.
Mengadakan kuis atau permainan dengan hadiah menarik. (*hadiah ga perlu besar , yang penting kemasannya unik. Contoh mie remes dipitain, permen dibuat jadi kalung, dll)

.

Mengadakan dorprais seru2an.
Dll.

.

Yang bisa stand up comedy ada baiknya, momen ini adalah momen yang pas untuk uji ketangkasan.😂
.

_______________


5. Bertanyalah sebelum ditanya.

.

Daripada ditanya, mending nanya.

.

Tentu saja pertanyaan yang kita ajukan levelnya beda. lebih ada faedahnya dan ada maknanya. Syukur2 mengasah otak.

Seperti,

"Bagaimana cara menjaga pola makan agar badan tetep fit?"
"Bagaimana cara menjaga kulit supaya fresh?
"Bagaimana cara membuat rambut tidak mudah beruban?"

Sekalian,
"Bagaimana cara menjaga ketahanan dan keamanan nasional?"
Dan,
"Bagaimana cara mempererat persatuan dan kesatuan bangsa sesuai dengan pancasila dan undang2?"


😂😂😂😂

.

Untuk yang masih remaja - dewasa awal, pertanyaannya bisa seperti berikut,

"ikut ekstrakulikuer apa?" , "ikut kegiatan sosial apa?" , "sudah melakukan perubahan apa setahun ini di lingkungan?" 

.

Jika jawabannya, "belum" , maka ajaklah untuk gabung2 dan join2 ke komunitas2 sosial yang tersebar (*online/offline)
.

________________

6. Milikilah Kemampuan ngeles atau membelokkan topik, (*syukur2 dengan gaya yang jenaka, itu lebih bagus)

.

sudah berusaha dengan 5 cara diatas, tapi ternyata pertanyaan "kapan" tak bisa dihindari, maka jurus terakhir adalah ngeles dan belokkan topik ke hal lain. 😂😂

.

contoh nyata yang terjadi di saya kemarin, udah cerita tentang bikin sekolah yang sedang dirintis, dan bla bla bla..(*dengan harapan semua lupa dengan pertanyaan "kapan").......

.

eh, ternyata masih aja ada yang nyeletuk ....."by the way, kok kamu kurusan ya?" 😂😂

 

 (*eaaaa, balik lagi ya. Ga maju-maju pola pikirnya). 

 

Akhirnya saya jawab, "iya. Saya tiap tahun mengalami penyusutan karena terkena dampak suhu panas bumi"...... (*lalu langsung sambung dengan kalimat).....  "jadi gimana? Ada yang perlu ditanyakan ngga, terkait sekolah yang saya rintis? Kalau mau daftar boleh banget".   

Dan lalu suasana pun, kembali balik ke topik pembahasan ke sekolah. 

.

Jika temans belum memiliki kemampuan ngeles untuk belokkan topik, maka lagi2 ada 11 bulan kedepan untuk berlatih dan memperbanyak materi. Ditambah kemampuan jenaka, akan lebih baik lagi. 

_________

.
Insya Allah 6 hal tersebut, yang bisa saya tulis sesuai dengan pengamatan dan kejadian yang saya alami. 

.

secara observasi global (*halah) , pertanyaan "kapan" itu muncul karena tidak ada topik pembicaraan/kegiatan yang menarik, ketika ngumpul bareng. 

.

so, mari yyyukkk sebisa mungkin, mulai dari sekarang kita bikin suatu kegiatan/topik pembahasan yang menarik untuk di bahas dan dilakukan, dari pada bahasan topik "kapan" melulu.

.

6 hal diatas bisa di praktekan untuk tahun depan ya. Tapi tentu saja disesuaikan oleh sikon masing2.
.
Jika butuh persiapan, masih ada 11 bulan kedepan untuk membuat "amunisi" nya.
.

.


Selamat mencoba.
😁😁😁😁
 

Rabu, 14 Maret 2018

Pajak

*copas

PAJAK. Urusan pajak ini mengingatkan kita bahwa menjadi warga negara itu sejatinya tidak gratis. Itupun tidak ada jaminan kita tak akan diperlakukan hanya sebagai konsumen.

Harga sandang, pangan, papan atau tanah, semua mengikuti mekanisme pasar. Harga energi dilepas ke pasar dan subsidinya dicabuti. Keamanan harus mengusahakan sendiri, atau bertransaksi tak resmi dengan aparat negara. Atau meminta perlindungan ormas.

Transportasi adalah contoh sempurna bagaimana uang pajak menjadi amunisi yang semakin merugikan warga negara pembayarnya, karena sebenarnya hanya dianggap konsumen.

Mula-mula kita membayar pajak untuk membangun jalan. Karena sudah ada jalan, jumlah kendaraan meningkat. Hasilnya, negara mendapat lebih banyak pemasukan dari pajak kendaraan.

Uang yang masuk mestinya diinvestasikan lagi untuk membangun sistem dan infrastruktur transportasi umum massal, agar ketika setiap orang sanggup membeli kendaraan, hal ini tidak menjadi malapetaka.

Tapi jalannya sejarah tidak demikian. Karena tak ada transportasi umum massal, orang mencari solusinya sendiri dengan membeli kendaraan. Kendaraan baru, berarti sumber pajak baru. Demikian seterusnya hingga jalan umum benar-benar tak lagi sanggup menampung beban lalu lintas.

Lalu apa solusinya? Jalan tol dibangun. Jalan yang tidak gratis.

Semua orang yang melintasi jalan tol adalah konsumen. Bukan warga negara. Ketika jalan tol macet, baik produsen maupun konsumennya sama-sama tak punya pilihan. Gerbang tol tetap dibuka dan operatornya cukup  mencantumkan: "Arah Cawang, kecepatan 10-20 km. Hati-hati dalam berkendara".

Itulah disclaimer bahwa membayar bukan jaminan mendapat apa yang Anda mau. Alias "syarat dan ketentuan berlaku".

Dengan keuntungan sebagai penyedia jalan berbayar, maka investasi selanjutnya jelas untuk membangun jalan berbayar yang lain. Bukan untuk membangun jalanan umum. Meski pendapatan perusahaan infrastruktur itu diperoleh dari mobil-mobil yang sudah membayar pajak.

Ketika jalan tol yang tarifnya terus naik tetap kewalahan mengatasi kemacetan, negara memikirkan solusi lain yang tak kalah merampoknya: Electronic Road Pricing (ERP).

Jalanan umum yang dibangun dari pajak kendaraan kita, sekarang hendak diberi portal dan yang lewat harus membayar.

Jadi jika disimulasikan, seorang karyawan yang berkantor di rute-rute jalan ERP, setiap hari harus membelanjakan setidaknya 50 ribu rupiah untuk melewati tol dalam kota dan ERP. Jika dalam satu bulan ada 20 hari kerja, berarti dalam satu tahun ia diperas oleh negara hingga 12 juta rupiah.

Tak peduli apapun merk dan jenis mobil Anda, pengeluaran sebesar ini dua kali lipat nilai pajak Toyota Alphard. Kalau Anda kebetulan pemilik Alphard, berarti Anda membayar 18 juta rupiah per tahun hanya untuk urusan kendaraan. Belum termasuk bensin dan parkir.

Bagi yang benar-benar memiliki Alphard, tentu saja ini bukan soal besar. Tapi jika mobil Anda jenis LCC seperti Agya, apakah ini terdengar masuk akal.

Bagi pemilik Alphard, dalam 18 juta uang yang dikeluarkan untuk urusan kendaraan setiap tahun, hanya 33 persen-nya yang terkait kewajibannya sebagai  warga negara. 66 persennya karena dipaksa menjadi konsumen jalan tol dan ERP.

Komposisi persentase akan lebih terlihat merampok lagi jika kendaraan Anda bukan Alphard. Maka benarlah, jika yang lebih miskin, selalu membayar lebih mahal.

Itu baru urusan transportasi yang memang paling mencolok dan mudah di-indera. Dalam hal pangan, air bersih, energi, tanah, hingga keamanan, hubungan kita dengan negara yang berpikir kapitalistik ini, akan lebih terlihat sebagai konsumen dan produsen.

Kita baru merasa menjadi warga negara di jalan tol ketika mobil-mobil para jenderal dan pejabat yang dikawal, minta didahulukan. Padahal di jalan tol, semua adalah konsumen.

Lalu para warga negara yang malang ini, berebut remah-remah akses jalan dengan saling sikut dan tancap gas berusaha mengekor konvoi pejabat atau jenderal yang --mobil, sopir, dan pengawalnya-- kita ongkosi dari pajak itu.

Rabu, 28 Februari 2018

IQ bagaimanapun tidak akan bisa menolong etika yang buruk.

Dua belas tahun lalu, seorang wanita pergi kuliah di Prancis. Namun, dia harus bekerja sambil kuliah. Dia memperhatikan bahwa sistem transportasinya ternyata menggunakan sistem "otomatis",  artinya Anda membeli tiket sesuai dengan tujuan melalui mesin. Setiap perhentian transportasi umum memakai cara "self-service" dan jarang sekali diperiksa oleh petugas. Bahkan pemeriksaan insidentil oleh petugas pun hampir tidak ada. Setelah dia menemukan kelemahan sistem ini, dengan kelicikannya, dia memperhitungkan bahwa kemungkinan tertangkap petugas karena tidak membeli tiket sangat kecil. Sejak itu, dia selalu naik transportasi umum tersebut dengan tidak membayar tiket. Dia bahkan merasa bangga atas kelicikannya. Dia juga menghibur diri karena dia anggap dirinya adalah mahasiswa miskin, dan kalau bisa harus hidup seirit mungkin. Namun, dia tidak menyadari bahwa dia sedang melakukan kesalahan fatal yang akan mempengaruhi karirnya.
.
.

Setelah 4 tahun berlalu, dia tamat dari sebuah kampus ternama dengan nilai yang sangat bagus. Ini semakin membuatnya penuh dengan kepercayaan diri. Dia mulai melamar kerja di beberapa perusahaan ternama di Paris dengan harapan besar akan diterima. Pada mulanya, semua perusahaan ini menyambut dia dengan hangat. Namun, berapa hari kemudian, semua perusahaan tersebut menolaknya untuk bekerja.

.

Kegagalan yang terjadi berulang kali tersebut membuatnya sangat marah. Dia mulai menganggap perusahaan-perusahaan ini rasis, tidak mau menerima warga negara asing. Akhirnya, dia memaksa masuk ke departemen tenaga kerja untuk bertemu dengan manajernya. Dia ingin tahu apa alasan semua perusahaan tersebut menolaknya bekerja. Ternyata, penjelasannya di luar persangkaannya.
.
.

Berikut ini adalah dialog mereka berdua:
.
.

Manajer: "Nona, kami tidak rasis, sebaliknya kami sangat mementingkanmu. Pada saat Anda melamar bekerja di perusahaan, kami terkesan dengan pendidikan dan pencapaian Anda. Sesungguhnya, berdasarkan kemampuan, Anda sebenarnya pekerja yang kami cari."
.
.

Wanita: "Kalau begitu, kenapa tidak ada perusahaan yang menerimaku bekerja?"
.
.

Manajer: "Karena kami memeriksa sejarahmu, ternyata Anda pernah tiga kali kena sanksi tidak membayar tiket saat naik transportasi umum."
.
.

Wanita: "Aku mengakuinya. Tapi masa sih karena perkara kecil ini maka perusahaan menolak pekerja yang mahir dan banyak sekali tulisannya yang terbit di majalah?"
.
.

Manajer: "Perkara kecil? Kami tidak menganggap ini perkara kecil. Kami perhatikan bahwa pertama kali Anda melanggar hukum, itu terjadi di minggu pertama Anda masuk negara ini. Petugas percaya dengan penjelasan bahwa Anda masih belum mengerti sistem pembayaran. Anda diampuni, tapi kemudian Anda tertangkap 2 kali lagi setelah itu."
.
.

Wanita: "Oh, karena saat itu tidak ada uang kecil di kantong saya."
.
.

Manajer: "Tidak, tidak. Kami tidak bisa menerima penjelasan Anda. Jangan anggap kami bodoh. Kami yakin Anda telah melakukan penipuan ratusan kali sebelum tertangkap."
.
.

Wanita: "Itu bukanlah kesalahan yang mematikan. Kenapa harus sebegitu serius? Lain kali saya akan berubah, masih bisa bukan?"
.
.

Manajer: "Saya tidak anggap demikian. Perbuatan Anda membuktikan dua hal:
.
.

1. Anda tidak mengikuti peraturan yang ada. Anda pandai mencari-cari kelemahan dalam peraturan dan memanfaatkannya untuk kepentingan diri sendiri.
.
.

2. Anda tidak bisa dipercaya. Banyak pekerjaan di perusahaan kami tergantung pada kepercayaan. Jika Anda diberikan tanggung jawab atas penjualan di sebuah wilayah, maka Anda akan diberikan kuasa yang besar. Demi ongkos, kami tidak sanggup memakai sistem kontrol untuk mengawasi pekerjaanmu. Perusahaan kami mirip dengan sistem transportasi di negeri ini. Oleh sebab itu, kami tidak bisa memakai Anda. Saya berani katakan, di negara kami, bahkan di seluruh Eropa, tidak ada perusahaan yang mau memakai Anda."
.
.

Pada saat itu, wanita ini seperti terbangun dari mimpinya dan merasa sangat menyesal. Perkataan manajer yang terakhir telah membuat hatinya gentar.
.
.

Moral dan etika bisa menutupi kekurangan IQ atau kepintaran. Tetapi IQ atau kepintaran bagaimanapun tidak akan bisa menolong etika yang buruk.

Selasa, 27 Februari 2018

MEWARNAI YANG "MEMATIKAN"

Selembar kertas kosong, jauh lebih baik daripada buku mewarnai.
.
.

Hampir semua anak prasekolah, apalagi yang sudah duduk di bangku taman kanak-kanak, pasti mengenal buku atau lembar mewarnai. Bukunya pun cukup populer dan banyak tersedia di toko-toko buku dengan isi yang bervariasi. Bahkan di taman kanak-kanak, kegiatan mewarnai juga merupakan salah satu aktivitas yang termasuk dalam program pembelajaran. Bentuknya berupa lembaran sama dengan bahan ajar sederhana yang biasa disebut lembar kegiatan (LK) siswa.
.
.

HAMBAT IMAJINASI
.
.

Yang jadi persoalan, banyak orangtua bahkan pendidik lebih memilih menyodorkan buku-buku mewarnai kepada anak sebagai sarana untuk melatih kemampuan coret-mencoretnya. Padahal pada buku-buku tersebut yang disediakan hanyalah sejumlah gambar dan anak tinggal memberi warna. Hasilnya, anak menjadi terpaku pada gambar tersebut. Buntutnya, kegiatan mewarnai malah jadi pembelenggu berkembangnya kreativitas anak.
.
.

Ketahuilah, penelitian Montessori menemukan, rata-rata pada usia 4,5-5,5 tahun adalah masa peka anak-anak untuk mencorat-coret, sehingga perlu diberikan sarana untuk menyalurkannya. Caranya yang paling tepat adalah dengan memberikan kertas kosong dan biarkan anak mencoret sesuka hatinya. Coretan anak merupakan inspirasi atau imajinasi si anak. Jadi, jangan mendikte anak dengan menyodorkan lembar bergambar yang sudah siap untuk diberikan warna. Tindakan ini hanya akan menghambat berkembangnya kreativitas imajinasi anak.
.
.

RESPONS SALAH
.

Tak kalah penting, respons dari orangtua kala anak sedang mewarnai. Umumnya, yang terlontar adalah respons yang tidak tepat, semisal, "Jangan keluar garis, dong!" atau, "Jangan berantakan ya mewarnainya, bisa-bisa kertasnya jadi kotor." Bahkan ada pula orangtua yang sampai memegangi tangan anaknya agar mewarnainya tidak berantakan. Ini semua adalah tindakan keliru yang malah membuat anak tertekan sehingga dapat menghambat berkembangnya imajinasi anak.
.
.

Demikian pula dengan respons, "Lo... kok warnanya itu." Atau, "Jangan diberi warna itu dong, enggak pas." Padahal pemilihan warna yang menurut orangtua tidak tepat itu, hanyalah persepsi orangtua saja. Justru yang harus dilakukan orangtua adalah menanyakan alasan si anak mengapa ia melakukan itu atau memilih warna tersebut, yang mungkin menurut persepsi orangtua tidak naturalis. Umpama, anak menggambar daun dan diberi warna cokelat, padahal umumnya daun berwarna hijau. Nah, tanyakan, "Kok warnanya cokelat, kenapa?" Bisa jadi jawabannya adalah daun ini kering, jadi berwarna cokelat. Inilah imajinasi anak. Bila ini dihambat, buntutnya kelak dapat memengaruhi rasa percaya dirinya.
.
.

Bila orangtua ingin memberikan inspirasi kepada anak, sebaiknya orangtua menggambar sendiri di kertas lain, kemudian tunjukkan kepada si prasekolah, "Ini lo, Ibu menggambar pantai, bagus enggak?" Melalui cara ini, anak akan mengamati gambar ibunya dan niscaya ia dapat memperoleh inspirasi dari situ.

.

PERSIAPAN MENULIS
.
.
Kegiatan mewarnai memang dapat melatih keterampilan motorik halus anak sebagai salah satu sarana untuk mempersiapkan kemampuan menulis. Dengan demikian, orangtua/pendidik hendaknya mempersiapkan terlebih dahulu kemampuan anak dalam memegang alat tulis sebelum mulai memperkenalkan kegiatan ini.

.

Untuk itu, coba amati, apakah si kecil sudah memiliki keterampilan dasar untuk memegang alat tulis (pensil, krayon, pensil warna, dan lain-lain) ataukah belum. Jika belum, sebaiknya berikan sejumlah stimulasi untuk mengembangkan kemampuan tersebut. Ada sejumlah latihan terkait yang dapat bermanfaat untuk melatih motorik halus jari-jari tangan, misalnya, memindahkan biji-bijian dari satu botol ke botol lain, membuat aneka bentuk dengan plastisin, lilin (malam), dan lain-lain. Nah, bila kemampuan memegang pensilnya sudah baik, dapat diberikan kesempatan untuk mencorat-coretkan alat tulis tersebut.
.
.

YANG HARUS DIWASPADAI
.
.

1. Ketika anak dipaksa melakukan kegiatan mewarnai (disodori buku mewarnai dan diminta untuk mengerjakannya), bukan karena kebutuhan atau keinginan anak itu sendiri, maka kegiatan itu hanya sekadar meningkatkan kemampuan (ability) dari si prasekolah dan bukan menumbuhkan minat/keinginan untuk menulis atau menggambar pada anak. Padahal tujuan utama pemberian beragam kegiatan sebagai stimulasi adalah untuk mengembangkan minatnya. Akibatnya, anak tidak berhasil menemukan konsekuensinya. Contoh, anak tidak akan memahami konsep bahwa kalau tidak bisa menggambar, nanti aku tidak bisa membuat komik, misalnya.
.
.

2. Terkadang orangtua/pendidik tidak memerhatikan tingkat kesulitan materi yang disodorkan pada anak. Idealnya memang dari yang mudah, lalu meningkat kepada yang sulit. Kalau anak langsung dihadapkan pada yang sulit, dapat menjadi hopeless atau kecewa, serta merasa dirinya tidak mampu.
.
.

3. Beri kebebasan pada anak untuk mengapresiasi sendiri hasil karyanya. Yang penting ada contoh-contoh yang secara naturalistik disampaikan kepada anak. Contoh, dengan melihat langsung atau melalui film, untuk menyampaikan bahwa daun warnanya hijau.
.
.

sumber:
http://pembelajaran-anak.blogspot.co.id/2008/07/mewarnai-yang-mematikan.html

Minggu, 25 Februari 2018

Di mana letak bahagia itu?

Seorang manager yang memiliki gaji 100 juta perbulan tengah berdiri di tepi pantai dan memandang ke arah laut, ketika seorang nelayan merapatkan perahunya.
.
.

Manager itu bertanya :
Berapa lama waktu yang anda habiskan untuk menangkap ikan sebanyak ini?
.
.

“Tidak lama, cukup 5 jam,” jawab nelayan.
.
.

“Mengapa tidak pergi lebih lama lagi dan menangkap lebih banyak lagi ?”
.
.

“Ini sudah cukup buat keluargaku.”
.
.

“Apa yang Anda lakukan diluar menangkap ikan?”
.
.

“Bermain dengan anak-anakku, tidur siang, makan siang bersama keluargaku, mengantar dan jemput anak ke sekolah, bermain gitar, ngobrol dengan teman-temanku, ya, hidup yang begitu kunikmati.”
.
.

“Aku punya ide untuk membantumu,” ujar si manager.
.
.

“Aku lulusan master dari Amerika,Saranku, habiskan waktumu lebih banyak utk menanggkap ikan, beli perahu yang lebih besar, dapat lebih banyak uang, beli lagi beberapa perahu.’
.
.

Jangan jual ikan keperantara, jual langsung ke pengolahan sampai Anda memiliki pabrik sendiri.
Kendalikan produk, distribusi dan produksinya.
Setelah itu anda pindah ke kota besar, kemudian ke luar negeri untuk mengembangkan usaha ini.”
.
.

“Menarik,Tapi berapa lama waktu yg dibutuhkan supaya aku bisa seperti itu?” tanya nelayan mulai tertarik.
.
.

“Lima belas tahun paling cepat. Dua puluh tahun paling lambat,” jawab si manager.

“Setelah itu pak, Pak ?”
.
.

“Inilah bagian yang paling menarik,
Anda bisa menjual saham perusahaan di bursa dan menghasilkan uang miliaran.”
.

“Wah, miliaran ya.
Lalu apa setelah itu Pak?”
.
.

“Lalu, Anda bisa istirahat dan pulang ke rumah.
Pindah ke desa kecil di tepi laut, memancing, bermain dengan anak-anak, tidur siang, makan bersama istri, mengantar anak ke sekolah,  bermain gitar serta ngobrol dengan teman2 dekat.
.
.

Oooooooh..

kalau TUJUAN AKHIR nya cuma itu, sekarang SAYA SUDAH MENDAPATKAN apa yang SAYA INGINkan,

Kalau menunggu 20 tahun lagi, anak-anak saya sudah besar, 
jadi gak mungkin lagi saya bermain dan mengantar mereka ke sekolah sahut si nelayan sambil meninggalkan manager yg kebingungan.
.
_______________
.
.

Banyak orang2 yg hidup berkecukupan, apapun yg dibutuhkan tersedia, apapun yg diinginkan tinggal bilang, tapi nyatanya tidak menjadi bahagia.
.
.

Sebaliknya, banyak orang2 yg hidup serba kekurangan, semua harus diperjuangkan, semua harus dilalui dengan kesusahan, tapi ternyata merasa bahagia dan memang bahagia.
.
.

Kalau begini, di mana letak bahagia itu?
.

Jangan2 nasehat orang tua itu benar: bahagia adalah pilihan. Begitupulalah cara dan prinsipnya, kitalah yang menentukan.
.
.
.

Jadi teringat, perkataan Jim Carrey ini,
.

Jim Carrey — 'I think everybody should get rich and famous and do everything they ever dreamed of so they can see that it's not the answer.'

.
.

Agama dan Tuhan

Ada teman yang berkata dalam keadaan bingung ,” mengapa orang itu engga juga insyaf? Apakah mereka tidak takut masuk neraka?.

.

Yang dengar, bukannya tersenyum tapi tertawa.
.
.
Giliran dia bingung. Kenapa malah tertawa.
.
.
Di katakan mengapa tertawa karena dia sedang mempertanyakan hak prerogatif Allah.
.
.
Hidayah itu hak Allah.
.
.
Yang tahu kualitas iman seseorang hanya Allah. Kalau manusia merasa mampu menilai keimanan seseorang maka dia sudah jadi Tuhan atau ingin kudeta Tuhan.

.

Apalagi hanya mengandalkan hal yang tampak lantas punya hak mengadili keimanan orang. Itu lebih gila daripada setan.

.
.
____________________
.
Ada lagi sebuah cerita,
.

Seorang Guru ditanya tentang mana yang lebih baik diantara 2 keadaan manusia oleh seorang muridnya :
.

1. Seorang Manusia yang rajin sekali sembahyang, namun sangat sombong, angkuh dan selalu merasa paling suci.
.
.

2. Seorang Manusia yang tak pernah sekalipun sembahyang, namun akhlaknya begitu mulia, rendah hati, santun, lembut dan cinta dengan sesama.
.
.

Lalu Sang Guru menjawab :
.
.

Kedua-duanya BAIK.
* Boleh jadi suatu saat Manusia yang rajin sembahyang, namun sombong, angkuh dan sok paling suci menemukan kesadaran tentang karakter buruknya itu dan dia mampu memperbaiki dirinya sendiri maka dia akan menjadi pribadi yang baik lahir dan batinnya.
* MANUSIA yang kedua bisa jadi sebab kebaikan hatinya, memperoleh berkah dan petunjuk sehingga ia menjadi Religius dan juga memiliki kebaikan lahir dan batin.
.
.
.

Kemudian Murid tersebut bertanya lagi, lalu siapa yang tidak baik kalau begitu?
Yang tidak baik itu, adalah kita.
.
.

Orang yang selalu mau menilai orang lain, namun LALAI dari menilai diri sendiri.
.
.
__________________
.
.
.
Maka,

Jangan merasa lebih alim dan merendahkan orang lain, karena kita tidak mengetahui kedudukan kita di akhirat kelak.
______________




"Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka.
Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir menjadi penghuni surga.
Sungguh amalan itu, dilihat dari akhirnya.
.
.

(HR Bukhari no.6493)

Sabtu, 24 Februari 2018

Kenapa indonesia berbeda dengan negara lain? 😂

*NEW ZEALAND ADALAH NEGARA ISLAMI NO 1 DI DUNIA, SEDANGKAN                            INDONESIA NO 141 (PALING TIDAK ISLAMI)*

(untuk bahan introspeksi)
.
.

SYAIKH Muhamad Abduh, ulama besar dari Mesir pernah geram terhadap dunia Barat yang mengganggap Islam kuno dan terbelakang.
.
.

Kepada Renan, filosof Prancis, Muhammad Abduh dengan lantang menjelaskan bahwa agama Islam itu hebat, cinta ilmu, mendukung kemajuan dan lain sebagainya.
.
.

Dengan ringan Renan, yang juga pengamat dunia Timur itu. mengatakan: _“Saya tahu persis kehebatan semua nilai Islam itu tercatat dalam Al-Quran._
_Tapi tolong tunjukkan satu komunitas Muslim di dunia yang bisa menggambarkan kehebatan ajaran Islam itu."_
.
.

Muhammad Abduh pun terdiam mendapat pernyataan itu.
.
.

Satu abad kemudian beberapa peneliti dari George Washington University,AS  ingin membuktikan tantangan Renan.
.
.

Mereka menyusun lebih dari seratus nilai-nilai luhur Islam, seperti kejujuran ( _shiddiq_), amanah, keadilan, kebersihan, ketepatan waktu, empati, toleransi, dan sederet ajaran Al-Quran serta akhlaq Rasulullah SAW.
.
.

Berbekal sederet indikator yang mereka sebut sebagai  *_'islamicity index'_* itu mereka datang ke lebih dari 200 negara untuk mengukur seberapa islami negara-negara tersebut.
.
.

Bagaimana hasilnya ?
.
.

New Zealand (Selandia Baru) sebuah negara di sebelah selatan Australia dinobatkan sebagai negara paling Islami di dunia.!
.
.

Bagaimana dan di mana posisi Indonesia ?
Kita harus kecewa karena Indonesia berada di urutan ke 140. Artinya, Indonesia adalah negara yang paling tidak Islami di dunia.
Nasib Indonesia  tidak jauh dengan negara-negara Islam lainnya yang kebanyakan sebagai negara yang paling tidak Islami di dunia atau bertengger di urutan ke 100-200 negara di dunia !
.
.
.
Apa itu Islam ?
Bagaimana sebuah negara atau seseorang bisa dikategorikan sebagai  negara atau orang paling islami ?
.
.

Kebanyakan ayat dan hadits menjelaskan Islam dengan menunjukkan indikasi-indikasinya, bukan definisi.
.
.

Misalnya hadits yang menjelaskan bahwa :
_“Seorang Muslim adalah orang yang di sekitarnya selamat dari tangan dan lisannya."_
.
.

Itu indikator.
.
.
Atau hadits yang berbunyi: _“Keutamaan Islam seseorang adalah kalau ia  meninggalkan yang tak bermanfaat."_
atau _“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hormatilah tetangga dan hormati tamu."_ atau seperti kata peribahasa:
_Bicaralah yang baik atau diamlah."_
.
.

Jika kita koleksi sejumlah hadits yang menjelaskan tentang islam dan iman, maka kita akan menemukan ratusan indikator keislaman seseorang yang bisa juga diterapkan pada sebuah kota bahkan negara.
.
.

Dengan indikator-indikator itu maka jangan heran ketika Muhamad Abduh melawat ke Perancis akhirnya dia berkomentar: _“Saya tidak melihat Muslim disini, tapi merasakan (nilai-nilai) Islami di Perancis,_Sebaliknya, di Mesir saya melihat begitu banyaknya Muslim, tapi hampir tidak melihat yang Islami"_
.
.

Pengalaman serupa dirasakan Professor Afif Muhammad (dari UIN Bandung) ketika ia berkesempatan meninjau Kanada yang merupakan negara paling islami no 5 di dunia,  padahal 90% penduduknya Kristen '
.
.

Ia heran melihat penduduk di sana yang tidak pernah mengunci pintu rumahnya.
Saat salah seorang penduduk ditanya tentang hal ini, mereka malah balik bertanya :
_“mengapa rumah harus dikunci ?”_
.
.

Di kesempatan lain, masih di Kanada, seorang pimpinan ormas Islam besar pernah ketinggalan kamera di halte bis.
Setelah beberapa jam kembali ke tempat itu, kamera masih tersimpan dengan posisi yang tidak berubah.
.
.

Sungguh ironis jika kita bandingkan dengan keadaan di Indonesia yang sepatu atau sandal saja bisa hilang di mesjid atau rumah Allah yang Maha Melihat.
Padahal jelas-jelas kata  _“iman”_ sama akar katanya dengan _aman._
Artinya, jika semua penduduk beriman, mska seharusnya bisa memberi rasa aman.
.
.

Penduduk Kanada menemukan rasa aman padahal (mungkin) tanpa iman.  Tetapi kita di Indonesia, suka merasa tidak aman bersda di tengah orang-orang yang (mengaku) beriman.
.
.

Seorang teman bercerita,
di sebuah kota di Jerman, seorang wanita tua pernah marah kepada seorang Indonesia yang menyebrang saat lampu penyebrangan masih merah :
.
.

“ _Saya mendidik anak saya bertahun-tahun untuk taat pada aturan,_
_dan hari ini Anda menghancurkannya._
_Tadi anak saya ini melihat kamu melanggar aturan, menyebrang jalan seenaknya saat lampu hijau masih menyala. Dan saya khawatir kalau anak saya ini akan meniru Anda melanggar peraturan itu."_
.
.

Kejadian ini sangat kontras dengan sebuah video di _Youtube_ yang menayangkan seorang bapak di Jakarta dengan pakaian jubah dan sorban naik motor tanpa helm.
Ketika ditangkap polisi karena melanggar, si bapak tersebut malah marah-marah dengan menyebut-nyebut bahwa dirinya tak bersalah.
.
.

Mengapa kontradiksi ini terjadi ?
.
.

Syaikh Basuni, seorang ulama Kalimantan, dahulu suau hari pernah berkirim surat kepada Muhamad Rashid Ridha, ulama terkemuka dari Mesir. 
.
.

Suratnya berisi pertanyaan :
.
.

_“Limadza taakhara muslimuuna wataqaddama ghairuhum ?”_

("Mengapa muslim terbelakang dan umat yang lain maju?")
.
.

Surat itu dijawab panjang lebar dan dijadikan satu buku dengan judul yang dikutip dari pertanyaan itu.

Inti dari jawaban Rasyid Ridha adalah:
*Islam mundur karena para Muslim meninggalkan ajarannya,*
*sementara negara Barat maju karena meninggalkan ajarannya.*
.
.

Umat Islam terbelakang karena meninggalkan ajaran _'iqro'_ (membaca) yang artinya mencinta ilmu.
.
.

Muslim juga meninggalkan budaya disiplin dan amanah, sehingga tak heran negara-begara Muslim terpuruk dan berada di kategori _'low trust society'_ yang artinya, masyarakatnya sulit dipercaya dan sulit mempercayai orang lain alias selalu penuh curiga.
.
.

Muslim meninggalkan budaya bersih yang menjadi ajaran Islam, karena itu jangan heran jika kita melihat mobil-mobil mewah di kota-kota besar tiba-tiba melempar sampah ke jalan melalui jendela mobilnya.
.

Siapa yang salah ?
.

Mungkin yang salah yang membuat 'survey'. Sebab, kalau saja keislaman sebuah negara itu diukur dari jumlah penduduknya yang berbondong-- bondong menunaikan ibadaj haji  dan/atau melakukan umroh, maka pastilah Indonesia akan berada di ranking pertama.

_Wallahu a'lam bish-shawwab._

*******

Saudaraku tercinta, mari kita berbenah...
mulai dari diri kita sendiri...
mulai dari sekarang....

Copyright © 2015 dinART (dinar's ART) ^_^